Skip navigation

Disampaikan dalam : Seminar Laboratorium Perancangan Arsitektur :
DESAIN TEMATIK DALAM ARSITEKTUR

Institut Teknologi Nasional, Bandung

24 Agustus 2002

Pembuka

Perancangan rumah dari jaman ke jaman mengalami perubahan. Bagi sebagian orang, rumah tinggal tidak lagi hanya sebagai alat perlindungan dari dunia luar, tetapi sudah menyerupai “fashion” yang berfungsi sebagai alat aktualisasi diri. Rumah tidak sekedar sebagai ruangan untuk beraktivitas, tetapi juga sebagai media komunikasi pemilik rumah untuk “menyuarakan” apa yang ada didalamnya. Pembangunan rumah tidak selalu mengikuti pola-pola baku lama yang berlaku umum. Pada umumnya setiap pemilik rumah (calon) mempunyai keinginan dan angan-angan pada rumahnya yang sering dirumuskan menjadi sebuah ungkapan tema.

Tema tersebut yang akan mengarahkan selama proses disain dan konstruksi. Arsitek sebagai pelaksana dalam proses disain harus mengarahkan setiap guratan penanya untuk memberikan nuansa tema pada setiap detail rancangan, hingga rumah dapat bekerja dan berfungsi sesuai tema, serta angan-angan pemilik rumah menjadi terwujud.

Tema sangat beragam dan dapat muncul dari berbagai aspek. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengaplikasikan tema kedalam sebuah rancangan rumah tinggal. Tidak hanya ketepatan interpretasi terhadap tema, tetapi juga menerapkan tema selama proses perancangan hingga terwujud sebuah rumah tinggal.

Perumusan dan Interpretasi Tema

Perkembangan dan kecenderungan kondisi sosial politik dan budaya dunia sangat mempengaruhi tema perancangan pada umumnya. Ketika berkembang material baja, bangunan dengan rangka baja banyak bermunculan. Krisis ekonomi memunculkan tema efisiensi, sedangkan ‘postmodernisme’ memunculkan bangunan-bangunan dengan tema dekoratif atau warna-warna yang bernuansa festival. Isu regionalisme yang terjadi pada saat ini mendorong para pembangun untuk menggali tema-tema lokal. Sehingga (misalnya di Indonesia) bermunculanlah bangunan-bangunan bergaya tradisional, dengan material penyusun dari lingkungan setempat, kemiringan atap curam, teritisan lebar (tropis), dll.

Terlepas dari perkembangan pemikiran dunia, kondisi lingkungan setempat : seperti lahan (kemiringan lahan, berkontur, berbatu), lokasi (kota, hutan, gurun, perumahan, rawa, sungai), gaya bangunan terdekat juga dapat memunculkan tema . Rumah pada lahan miring, rumah batu, rumah padang pasir, rumah mengapung, “menangkap gunung”, arsitektur atap, rumah kayu, rumah panggung adalah beberapa contoh tema yang dapat dimunculkan.

Namun demikian, dalam perancangan rumah tinggal, tema tetap merupakan dominasi para pengambil keputusan utama, dalam hal ini adalah pemilik rumah dan arsitek.

Tema : angan-angan pemilik rumah

Tema dapat muncul dari angan-angan pemilik rumah. Pada saat mengungkapkan keinginannya untuk membangun rumah, beberapa pemilik rumah ada yang bisa mengungkapkan tema yang diinginkan secara eksplisit (diucapkan), ada yang tidak, bahkan ada yang tidak mengenal istilah tema dalam disain. Tema yang tidak diucapkan akan terungkap dari keinginan-keinginan pemilik rumah mengenai hal-hal lain baik yang berkaitan dengan kebutuhan ruang sampai hal-hal diluar arsitektur seperti hobi, pekerjaan, maupun keluarga.

Pada umumnya tema tidak muncul begitu saja, tetapi dengan dasar latar belakang pemilik rumah atau melalui proses pemikiran terlebih dahulu. Seorang yang sibuk akan lebih menyukai tema bangunan ‘simply’, ‘clear’ dan ‘managable’, penggemar seni cenderung menginginkan tema yang berkaitan dengan galeri/ruang untuk memamerkan karya atau koleksinya: cahaya, bidang, selasar, ruang, sedangkan keluarga dengan pola “birokrat” menghendaki hirarki ruang yang terurut dan terpisah jelas sesuai fungsinya.

Tema : “intelectual background” arsitek

Latar belakang dan pengalaman seorang arsitek merupakan perbendaharaan tema yang sangat luas. Ideologi, faham dan pemahamannya mengenai khasanah arsitektur, kemampuan arsitek men-“sari”-kan permasalahan yang dihadapi dan merumuskannya menjadi sebuah potensi, dapat memberikan tema yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Bagi sebagian arsitek, tema tertentu sudah menjadi “merek dagang”, yang selalu diterapkan pada setiap bangunan yang dirancangnya. Misalnya Toyo Ito dan Itsuko Hasegawa yang berusaha menjembatani dunia maya/digital dan komunikasi dengan bangunan, Bernard Tscumi dengan pemahamannya mengenai pluralisme kota, Geoffry Bawa dan Kerry Hill dengan regionalismenya.

Komunikasi pemilik rumah dan arsitek : interpretasi tema

Pada akhirnya, sebuah tema akan lahir dan harus disepakati oleh kedua pengambil keputusan utama melalui proses komunikasi. Dari proses komunikasi selama proses perancangan akan menelorkan interpretasi tema yang akan diterapkan pada bangunan. Dalam beberapa kasus, pemilik rumah akan mencari arsitek yang sepaham dengan dirinya, sehingga setiap usulan yang diberikan oleh sang arsitek sejalan dengan yang diinginkannya. Dalam kasus lain sering pula terjadi arsitek yang tidak sejalan dengan pemilik rumah. Di sini diperlukan kearifan kedua belah pihak dalam menentukan keputusan, sehingga rumah yang dihasilkan kelak tetap menyuarakan tema yang sudah ditetapan.

Aplikasi Tema pada Proses Perancangan

Tema merupakan salah satu bagian dari proses perancangan yang harus disepakati pada tahap awal oleh pemilik rumah dan arsitek. Dengan acuan tema, seorang arsitek akan mulai merancang rumah sang pemilik, sehingga terwujud keinginannya.

Sebagai ilustrasi penulis akan menggunakan contoh tahap-tahap yang dilakukan penulis dalam perancangan rumah tinggal, di bawah ini.

A. Proses disain

Tahap I :

1. Bertemu pemilik rumah: penyampaian kebutuhan ruang dan pengungkapan tema secara lisan dan tulisan, mempelajari latar belakang keluarga

2. Survei lahan.

Tahap II :

1. Analisa : latar belakang keluarga, survei lahan

2. Perumusan tema dan konsep

3. Disain : 2 alternatif disain (bentuk dan layout), denah,tampak, potongan prinsip, perspektif.

4. Asistensi 1 : pengungkapan usulan tema dan konsep serta perwujudan pada 2 alternatif disain, diambil kesepakatan mengenai tema dan konsep, memilih alternatif.

Tahap III

1. Disain : pengembangan salah satu alternatif dengan 2 buah varian (perbedaan minor pada fasade atau denah).

2. Asistensi 2 : memilih varian, diskusi awal mengenai ‘material finishing’

Tahap IV

1. Disain : Pengembangan detail, ‘design development’

2. Asistensi 3 : mendiskusikan detail, pemilihan material, draf RAB

Tahap V

1. Disain : Pengembangan detail, pembuatan dokumen konstruksi

2. Asistensi 4 (jika diperlukan)

Tahap VI

1. Penyerahan dokumen konstruksi

B. Pengawasan konstruksi

Selain tahap I dan II, tahap IV dan pengawasan konstruksi merupakan tahap yang cukup kritis. Disini konsistensi penerapan tema pada keseluruhan bangunan ditentukan. Pemilihan detail yang sesuai, hingga pemilihan material akan mempengaruhi hasil akhir rancangan. Hasil akhir rancangan akan sangat beragam. Rancangan yang berhasil akan dengan mudah dicerna baik secara visual dan rasa oleh pemilik maupun orang lain, serta bekerja sesuai fungsinya. Tidak menutup kemungkinan pula terjadi kegagalan dalam aplikasi tema pada perancangan rumah tinggal.

Kegagalan aplikasi tema tersebut disebabkan oleh :

· Kesalahan interpretasi TOR dan analisa lahan

· Kegagalan komunikasi antara arsitek dan pemilik rumah

· Konsistensi penerapan tema pada setiap tahap disain

· Kendala teknis (ketidak tersediaan material, metoda konstruksi, tenaga ahli,dll)

· Pengawasan selama konstruksi kurang ketat.

Perancangan Rumah Iskandar Alisyahbana & Andonowati

Rumah Iskandar Alisyahbana, Cimbuleuit, Bandung

Tema : baja sebagai simbol modernisme

Penggunaan material baja pada perancangan rumah tinggal keluarga Iskandar Alisyahbana didasarkan atas keyakinan pemilik rumah mengenai “baja sebagai simbol modernisme”. Oleh karena itu pengembangan elemen-elemen arsitekturnya diarahkan untuk mengolah baja baik sebagai elemen struktur maupun sebagai elemen estetika. Pada pengolahan denah, di beberapa tempat kolom baja dibiarkan “berdiri bebas” , menjadi latar depan dinding masif di belakangnya. Tampilan balok dan kolom baja pada fasade dicat warna hijau untuk membedakan dengan dinding bata, yang dalam konteks ini dianggap sebagai elemen lama. Detail sambungan railing, papan lantai menggunakan kawat, plat besi dan baut yang merupakan elemen yang lekat dengan estetika mesin.

clip_image002

Gambar 1: Rumah Iskandar Alisyahbana

clip_image004

 

Rumah Andonowati (kompetisi disain), Dago Pakar, Bandung

Tema : modern, simple, clean, and clear cut

Hasil disain rumah tinggal ini merupakan hasil interpretasi penulis pada tema yang diungkapkan oleh pemilik rumah. Kata ‘modern’, ‘simple’, ‘clean’, ‘clear cut’ membawa penulis pada masa berkembangnya arsitektur modern pada awal abad 19 yang diawali dengan perkembangan material baja dan kaca. Krisis ekonomi dunia dan industrialisasi yang juga terjadi pada masa itu berpengaruh pada disain arsitektur. Bangunan dibangun sederhana, efisien (bentuk cenderung “box”), modular.

Pada perancangan rumah ini, penggunaan material rangka baja, kaca, selubung bangunan ‘box’ sederhana mengarahkan pada tema yang diajukan oleh pemberi tugas. Ekspresi ‘clean’ pada kaca, dan modul bujur sangkar pada ruang dan rangka baja diarahkan untuk mewujudkan tema tersebut.

clip_image007

Penutup

Terungkap maupun tidak, melalui pemilik rumah, adanya tema dalam rancangan rumah tinggal tetap diperlukan, sehingga bangunan yang dihasilkan mempunyai “suara”. Sebagai arsitek, kita harus tetap dapat menampilkan sebuah nuansa dan suasana indah pada tiap rumah tinggal.

Intelektualitas arsitek dalam menterjemahkan mimpi sang pemilik rumah, kepiawaian dalam mengolah rancangan dan ketekunan dalam bertukar pikiran dengan pemilik rumah akan menjamin keberhasilan sebuah tema pada setiap detail rumah tinggal.

%d bloggers like this: